Kamis, 27 Desember 2018

Dendam

Enggak Merokok tapi dendaman
Ya sama saja
Jantungnya ancur cuk!!!

-Sudjiwo Tejo-

Malam ini berbeda
Padahal aku terbiasa melihat postingan di Story WhatsApp nya.
Tapi kali ini berbeda

Sakit
Iri
Dengki
Dendam
Amarah

Aku bukan orang yang terpaku masa lalu, aku hanya menjadikan itu sebagai pelajaran.
Aku bukannya masih menyayangi atau mencintai wanita itu. tidak, tentunya sama sekali tidak.
Aku hanya merasakan rasa sakit yang kembali muncul.

Rasa sakit yang dipicu iri
Rasa sakit yang dipicu dengki
Rasa sakit yang dipicu dendam
Rasa sakit yang dipicu amarah

Kadang aku berdialog dengan diriku sendiri, 

"kenapa kamu gak nyari pasangan juga, untuk melampiaskan dan melupakan semua rasa yang menyakiti mu."

"Matamu cuk, sebangsat apa aku sampai nyari orang lain sebagai pelampiasan. Kalau sebatas teman cerita atau chat sih gak masalah, tp klo pacar supaya bisa ngelupain dia. No, hubungan itu soal
Perasaanmu dengan pasanganmu
Bukan
Perasaanmu dengan mantanmu."

"Jadi kamu tetep sendiri karena masih ada perasaanmu dengan mantanmu."

"Iya, tapi bukan suka atau cinta. Tapi sakit karena dendamku."

"Tapi dendam bikin ancur jantungmu."

"Jantungku memang sudah ancur, jadi enyahlah. Kau buat aku seperti orang gila karena berdialog sendiri, walaupun dialog dalam hati."

"Enyah kemana tolol, aku adalah kamu."

"Dan Kamu adalah aku."

Aku adalah pendendam
Pendendam dalam diam
Aku mendendam berkali-kali
Sampai aku terbiasa dengan rasanya
Jantungku juga sudah ancur berkali-kali
Sampai aku terbiasa dengan sakitnya

Tapi setidaknya, rasa sakit itu berkurang saat aku menulis ini.
Semakin panjang tulisanku, semakin panjang juga jeda detak jantung ku yang awalnya bagai tak berjeda.
Semakin panjang tulisanku, semakin panjang juga nafasku yang awalnya tersengal-sengal.
Semakin panjang tulisanku, semakin tenang hatiku.

Anggaplah aku pengecut karena hanya berani menulis disini.
Tapi aku memang pengecut, dan inilah cara terbaik bagiku sang pengecut.

Pengecut yang Dendaman dalam diam

Rabu, 08 Agustus 2018

Coretan Panjang


Malam ini aku kembali bingung dengan diriku sendiri.
Apakah yang kulakukan sudah benar ?
Apakah ini keputusan yang tepat ?
Apakah ini yang aku inginkan ?
Pertanyaan-pertanyaan itu kembali berputar di dalam kepalaku.
Perasaan itupun kembali datang kepadaku, dan itu membuat sensasi yang tidak mengenakkan.
Rasanya sangat sesak dan sakit.
Semakin aku menolak, semakin menjadi rasa itu.

Aku benci rasa sakit.
Aku benci rasa ini.
Aku benci diriku sendiri.

Semua terasa membusuk.
Ya, rasanya seperti membusuk.
Membusuk dari dalam.
Aku sadar betapa busuknya diriku.
Sangat busuk.

Aku tau bagaimana kalian memandang ku sekarang.
Sangat brengsek bukan.
Aku telah menyakiti dia, panutan kalian, dan orang yang sangat kalian sayangi.
Ya menurut kalian begitu.
Tapi apakah kalian tau... Tidak, mungkin hanya kamu yang tau.
Tapi pandangan mu padaku tak akan berubah.
Jadi biarlah begitu kalian memandang ku.
Karena aku tak memungkiri, aku memang orang yang brengsek dan juga busuk.

Aku tak bisa merubah cara pandang kalian.
Aku hanya bisa menganggap kalian tak memandang ku seperti itu.
Aku hanya bisa bersikap tak terjadi apapun dan melupakan segalanya.
Mungkin bagi kalian aku terlihat baik-baik saja, terlihat tak perduli dan tak memiliki masalah.
Tapi kawan... Mungkin kalian juga melihatnya, luka ini belum kering, bahkan masih menganga.
Tapi semua itu kututupi dengan topeng yang kumiliki.

Aku hanya ingin melupakan segalanya dan mengulang dari awal, seakan tak pernah terjadi apapun antara aku dan orang itu.
Tapi itu perlu waktu...
Ya, semua butuh waktu...
Dan tak, semudah itu...
Aku tak butuh maaf, hanya tolong untuk jangan membahas hal itu...
Aku butuh ruang untuk mengobati luka itu, hanya aku sendiri dan luka ku.
Aku ingin bersikap semenjana seolah tak terjadi apapun selama ini.
Dan apabila aku dan orang itu dipertemukan kembali oleh tuhan, aku ingin mengulang semuanya dari awal... Seperti dua orang yang baru bertemu dan kenal secara kebetulan.

Karena itu aku ingin me-restart segalanya untuk saat ini.

Sabtu, 28 Juli 2018

Entri 2

Aku suka membaca tulisan mu karena aku merasakan perasaan yang kau tuang ke dalamnya.
Tapi aku mulai berpikir, ya walaupun pembahasan ini sedikit melenceng.

Apakah kau menyesali karena membiarkan ku tau?
Apakah aku mengganggumu ?(Ya untuk yang ini aku merasa aku seperti nyamuk yang terbang di telinga mu).
Apakah aku masih diijinkan membaca seluruh tulisan mu ?

Aku sadar aku pasti akan terlihat seperti orang aneh karena punya pertanyaan seperti ini atau lebih tepatnya seperti orang yang ke ge-eran atau bisa dibilang sok peka karena menebak-nebak.

Tapi sudahlah aku sudah tw seberapa bodoh nya aku ketika aku melontarkan pertanyaan seperti ini, lagipula aku sudah terbiasa terlihat bodoh dimata orang-orang.

Aku hanya tidak ingin tiba-tiba mati dan penasaran karena kepalaku dipenuhi pertanyaan yang seperti itu (alasan yang bodoh bukan).

Ya sudahlah... Setidaknya aku merasa lega saat menulis ini

Kamis, 26 Juli 2018

Entri


Aku hanya melakukan hal yang ingin ku lakukan dan aku melakukan itu karena aku ingin, itu saja. Tak lebih dan tak kurang.

Rabu, 25 Juli 2018

Tengah Hutan


Hari ini aku kembali ketempat itu.
Tempat dimana aku menghabiskan masa putih abu-abu ku.
Dan hal itu membuat kenangan tempat itu seakan kembali berputar dalam ingatanku.
Suara tawa di ruang kelas.
Derap langkah yang terdengar di lorong.
Keributan asrama.
Obrolan saat antri mandi.
Kericuhan saat ada makanan di tengah lorong.
Semuanya terasa seperti baru kemarin aku menjalani hari-hari yang seperti itu.
Dan rasanya baru kemarin aku masuk ketempat itu.
Waktu memang berlalu begitu cepat dan banyak hal yang sudah terjadi.
Waktu juga terkadang kejam karena membuat kita tidak menyadari betapa banyak hal yang terlewati.

Senin, 23 Juli 2018

Dialog singkat

Sumber : apk walli

Pembicaraan kita hari ini memang jauh dari kata berkesan dan menarik.
Bahkan bisa dikatakan aneh dan tidak penting bagi beberapa orang.

Tapi itu tidaklah membosankan, bagiku.

Dialog-dialog singkat yang terjadi begitu saja. 
Candaan yang muncul secara spontan. 
Tawa yang seakan-akan ingin ikut bergabung dalam keramaian tempat tersebut.
Semuanya mengalir begitu saja, walaupun ada sedikit paksaan dalam aliran tersebut.

Aku tidak tau dengan mu, Tapi aku sangat menikmati dialog-dialog singkat yang terjadi hari ini.

Bagaimana denganmu ???

Sabtu, 21 Juli 2018

Pecinta or Penikmat Kopi

Sumber : apk Walli
Aku adalah pecinta kopi.

Pembaca : Gak nanya min
Admin : aku cuma mau bilang !!!, Gak boleh
Pembaca : Aku gak bilang gak boleh lho min
Admin : +#+@;#+#;#(#!#!(#


Okay... Mungkin tidak pantas aku menyebut diriku sebagai pecinta kopi karena aku hanya meminum kopi sachet, dan tidak meminum kopi di cafe-cafe seperti pecinta kopi pada umumnya.
Tapi ayolah.... Kopi tetaplah kopi di manapun dia berada. selain itu saat ini aku tidak cukup sugih untuk menghabiskan uangku di cafe hanya untuk gengsi dan secangkir kopi. Tidak saat ini tentunya

Penikmat Kopi Biasa
Mungkin itu kata-kata yang cocok untuk ku
Aku selalu berusaha mengingat kan diriku saat meminum kopi, bahwa kopi itu seperti kehidupan
Sama-sama pahit
Tapi bahkan kopi yang pahit pun akan nikmat jika kita dapat menikmati nya
Begitu pun juga kehidupan



_Pojok Blog_

Pembaca : Bijaknya keluar
Admin : aku gak bijak
Pembaca : terus ???
Admin : Entah... Menurut mu apa ???

Pergi

Sumber : apk walli

Pernah terbersit di benakku untuk pergi meninggalkan tempat kelahiran ku ini.
Alasannya cukup sederhana, aku ingin meninggalkan segala hal yang tidak mengenakkan bagiku.
Kesedihan, kekecewaan, dan sebagainya.
Aku ingin me-restart segalanya dari awal di tempat yang baru.
Ya... menurut mu aku pasti orang yang lari dari masalah, tapi tidak.
Aku tidak pernah membuat masalah disini.
Aku hanya merasa tidak nyaman dengan suasana disini.
Dan aku ingin menjauh dari tempat ini, walaupun aku tau ini akan sulit bagiku.

Dan kesempatan itu datang, aku bisa menggunakan alasan untuk bersekolah jauh dari pulau ini.
Aku mengikuti seleksi nasional sebagai batu pijakan ku untuk pergi dari pulau ini.
Aku berdoa dan berusaha agar keinginan ku itu terwujud.

Tapi, tak semua ekspektasi menjadi realita.
Doa orang tua ku terlalu kuat.
mereka tidak rela jika anak tertua mereka pergi jauh dari mereka.
Mereka memang sangat menentang ku untuk pergi meninggalkan tempat kelahiran ku, dan keinginan mereka terwujud.
Aku harus puas dengan tetap melanjutkan pendidikan dan mimpiku disini.
Mungkin memang sudah karma ku, tuhan tidak mengijinkan ku pergi dari sini.